April 21, 2020

Perjuangan Dua Srikandi Garuda Pertiwi Menembus Level Dunia

Bagi pesepakbola Indonesia, mampu berkarier di luar negri adalah sesuatu yang mengagumkan. Terlebih jika negara tujuannya adalah negara yang memiliki level kompetisi sepakbola lebih tinggi dari Indonesia.

Sudah banyak pesepakbola Indonesia yang merajut asa untuk menjadi pesepakbola top dunia di mancanegara. Teranyar ada Egy Maulana Vikri, dan Witan Sulaiman yang kini berkarier di Eropa.

Memang kebanyakan adalah pesepakbola laki-laki yang berkarier di luar negeri. Sementara untuk perempuan hingga saat ini masih belum ada.

Saat ini memang belum ada pesepakbola putri dari Indonesia yang mampu berkompetisi di level dunia. Namun, setidaknya jalan ke sana sudah mulai terbangun.

Dua pesepakbola timnas putri, yakni Dhanielle Daphne dan Shalika Aurelia, kini tengah mempertaruhkan gengsi Merah-Putih di perantauannya.

Dhanielle kini sedang menempuh pendidikan tahun pertamanya di Oregon State University. Meski demikian, gelandang serang Garuda Pertiwi ini belum bisa berkarier bersama tim sepakbola wanita kampusnya, Oregon Beavers, di NCAA yang merupakan kompetisi tingkat mahasiswa paling elite di Amerika Serikat.

Keputusan Dhanielle untuk hijrah ke Amerika Serikat merupakan keputusan yang tepat. Pasalnya Amerika Serikat merupakan ratu dalam sepakbola wanita di dunia.

USWNT (United States women’s national soccer team) merupakan timnas paling sukses di Piala Dunia Wanita, dengan empat gelar juara dunia. Ini menjadi bukti kalau Amerika Serikat adalah gudang penghasil pesepakbola wanita berkualitas di dunia.

“Saya main di liga antar universitas di Oregon, walaupun bukan NCAA, tapi ini kompetitif sekali dan level permainan atau intensitasnya sangat tinggi,” ujar Dhanielle.

“NCAA sendiri sistem nya harus melalui rekrut dan scouting. Jadi untuk jadi atlet di NCAA itu tidak mudah dan tidak sesederhana yang dipikirkan. Semoga kesempatan itu akan segera datang untuk saya [main di NCAA],” kata Dhanielle.

Saat ini, Dhanielle sedang dalam proses pemantauan oleh Next College Student Athlete (NCSA) yang merupakan jaringan rekrutmen atletik perguruan tinggi terbesar dan memiliki reputasi kelas dunia. Besar kemungkinan karier Dhanielle di NCAA hanya tinggal menunggu waktu saja dalam satu atau dua musim ke depan.

“Impian saya adalah mengejar studi dan sepakbola di Amerika Serikat. Saya percaya, saya memiliki apa yang diperlukan untuk bersaing dan belajar untuk menjadi lebih baik sebagai pemain dan orang di luar lapangan,” urai Dhanielle, dilansir dari situs resmi NCSA.

Di belahan dunia lainnya, Shalika Aurelia juga sedang berjuang seperti Dhanielle dalam hal akademik dan karier sepakbola. Bek timnas wanita ini sedang bersekolah di London, Inggris sembari mencoba peruntungannya dalam sepakbola.

Pada akhir tahun lalu, Shalika mendapat kesempatan emas untuk unjuk kebolehan bersama tim wanita U-21 West Ham United. Pengagum Sergio Ramos ini pun sempat ikut berlatih bersama West Ham United Women dalam beberapa kesempatan.

Meski belum direkrut tim junior West Ham United Women, Shalika hingga saat ini masih dilabeli trialist. Itu berarti kesempatan bek Garuda Pertiwi berusia 17 tahun untuk merajut mimpi di FA Women’s Super League di masa yang akan datang, masih terbuka.

“Di luar ekspektasi, saya belum pernah berlatih atau bertanding dengan tim U-21 West Ham. Selama seleksi ini latihannya dengan tim yang mayoritas umur pemainnya 16 tahun, sama seperti saya. Semoga proses adaptasinya cepat dengan bekal pengalaman bermain bersama timnas Indonesia yang pemain-pemainnya jauh di atas umur saya,” ujarnya Shalika beberapa waktu lalu.

Inggris merupakan salah satu negara dengan level kompetisi sepakbola terbaik di dunia. Baik itu kompetisi pria maupun wanita sama-sama memiliki presitise bagi kebanyakan pesepakbola di dunia.

FA Women’s Super League (FA WSL) sejauh ini merupakan kompetisi terbaik ketiga di Eropa berdasarkan perhitungan koefisien, di bawah Prancis dan Jerman. Banyak pesepakbola putri top dunia pernah berkarier di FA WSL seperti Carli Llyod, Ji Soyun, atau Pauline Bremer.

Secara prestasi, timnas Inggris memang masih kalah dengan timnas Amerika Serikat. Namun demikian, The Three Lionesses adalah salah satu timnas wanita yang diperhitungkan di dunia karena sekarang bercokol di peringkat keenam FIFA.

Meminjam istilah R.A. Kartini, “Habis gelap terbilah terang”, Dhanielle dan Shalika punya harapan besar menjadi pelita bagi Garuda Pertiwi yang kini masih dipandang sebelah mata oleh kebanyakan insan sepakbola di Indonesia.

Bila nantinya Dhanielle dan Shalika mampu menembus batas yang dicita-citakan, bukan tak mungkin nantinya insan sepakbola Indonesia tak melulu membanggakan Egy Maulana Vikri atau Witan Sulaeman. Lewat Dhanielle, Shalika atau mungkin para Srikandi Garuda Pertiwi lainnya, gaung sepakbola wanita Indonesia di mancanegara akan terdengar lebih nyaring lagi.